Cerita Kuliner · 8 Agustus 2026

Cerita di Balik 5 Jajanan Favorit Indonesia

Cerita di Balik 5 Jajanan Favorit Indonesia

Ada yang menarik dari jajanan pasar. Kita memakannya hampir setiap minggu — di acara pengajian, arisan, atau sekadar teman ngeteh sore — tapi jarang sekali kita bertanya: sebenarnya kue ini datang dari mana?

Ternyata banyak jajanan yang setiap hari kita santap punya perjalanan panjang. Ada yang dibawa pedagang dari Timur Tengah, ada yang warisan dapur kolonial, ada juga yang menyeberang dari daratan Tiongkok ratusan tahun lalu. Berikut cerita di balik beberapa jajanan tradisional Indonesia yang mungkin belum pernah Anda dengar.

1. Apem — Kue Permintaan Maaf

Apem beras tradisional buatan Jajane Aliya

Di Jawa, apem bukan sekadar kue. Menjelang Ramadan, dalam tradisi megengan atau ruwahan, apem hampir selalu hadir di setiap rumah dan mushola untuk dibagikan ke tetangga.

Namanya sendiri sering dikaitkan dengan kata Arab afwan, yang berarti "maaf" — sejalan dengan makna tradisinya: saling memaafkan sebelum memasuki bulan puasa. Sebagian sejarawan kuliner juga menghubungkannya dengan appam, kue beras dari India Selatan yang dibawa lewat jalur perdagangan.

Fakta menarik: Teksturnya yang sedikit kenyal berasal dari fermentasi tape singkong atau ragi — teknik yang sudah dipakai jauh sebelum ada baking powder.

2. Kue Lapis Legit — Warisan Dapur Kolonial

Kue lapis legit berlapis rapi

Kalau Anda pernah heran kenapa kue lapis legit begitu mahal, jawabannya ada di sejarahnya. Kue ini lahir di era kolonial Belanda dengan nama spekkoek — secara harfiah berarti "kue lemak babi", bukan karena bahannya, tapi karena lapisan cokelat-kuningnya mengingatkan pada irisan daging berlapis.

Membuatnya butuh kesabaran luar biasa: setiap lapisan dipanggang satu per satu, bisa belasan hingga puluhan lapis, sambil ditekan rata agar hasilnya rapi.

Fakta menarik: Lapis legit versi Indonesia justru lebih kaya rempah dibanding versi Belanda aslinya — kapulaga, kayu manis, dan cengkeh ditambahkan oleh juru masak pribumi, dan justru versi inilah yang kini dikenal dunia.

3. Risol dan Pastel — Jejak Eropa di Jajanan Pasar

Risol mayo dengan isian creamy

Dua camilan gurih yang hampir selalu ada di snack box ini sebenarnya "pendatang". Risol berasal dari kata Prancis rissole, sementara pastel punya kerabat dekat dengan empanada dari Spanyol dan Portugal.

Keduanya masuk lewat meja makan Eropa di masa kolonial, lalu diadopsi dapur lokal dengan isian yang jauh lebih ramai — wortel, kentang, bihun, telur, sambal.

Fakta menarik: Risol mayo yang sekarang viral itu sebenarnya inovasi modern. Versi klasiknya berisi ragout ayam atau sayur, jauh lebih gurih dan berkuah.

4. Kue Tok — Simbol Umur Panjang

Kue tok jeruk dengan motif cetakan khas

Kue mungil berwarna cerah dengan cetakan motif ini punya nama asli ang ku kueh — "kue kura-kura merah" dalam dialek Hokkien.

Bentuknya memang sengaja menyerupai tempurung kura-kura, hewan yang dalam budaya Tionghoa melambangkan umur panjang. Karena itu kue ini secara tradisional disajikan saat ulang tahun orang tua, atau perayaan bayi berusia satu bulan.

Fakta menarik: Warna merah aslinya bukan sekadar hiasan — merah dipercaya membawa keberuntungan. Varian modern seperti kue tok jeruk adalah adaptasi belakangan yang lebih ringan rasanya.

5. Soes — Kubis yang Bukan Kubis

Soes bunga dengan isian vla lembut

Nama "soes" datang dari bahasa Belanda, tapi akarnya Prancis: choux à la crème. Dan chou dalam bahasa Prancis artinya… kubis.

Bukan karena rasanya, tapi karena bentuknya. Adonan choux yang mengembang di dalam oven membentuk gundukan bergelombang yang mirip kepala kubis kecil.

Fakta menarik: Kulit soes mengembang bukan karena ragi atau baking powder, melainkan murni karena uap air dari adonannya sendiri — salah satu teknik paling elegan dalam dunia pastry.

Semua Bermula dari Perjumpaan

Yang menarik dari semua cerita ini adalah satu hal: hampir semua jajanan yang kita anggap "kue kampung" ternyata hasil perjumpaan berbagai budaya — Arab, India, Tionghoa, Eropa — yang diracik ulang oleh tangan-tangan di dapur Nusantara sampai jadi milik kita sendiri.

Di Jajane Aliya, sebagian besar kue ini masih dibuat dengan cara yang sama seperti dulu: adonan diuleni tangan, dikukus atau dipanggang dalam jumlah kecil, dan dibuat baru setiap hari. Bukan karena tidak ada cara yang lebih cepat, tapi karena rasa yang Anda ingat dari kue buatan nenek biasanya memang lahir dari kesabaran seperti itu.

Kalau Anda ingin menghadirkan kembali rasa-rasa ini di acara keluarga, arisan, atau sekadar camilan sore di rumah — kami siap membantu.

Lihat pilihan lengkap jajanan kami di halaman Menu, atau langsung pesan via WhatsApp untuk kebutuhan acara Anda.

Yuk, pesan

Bikin Acara Lebih Berkesan dengan Snack yang Disukai Semua Orang

Tidak perlu repot membuat sendiri. Serahkan urusan snack kepada kami agar Anda bisa fokus menikmati momen bersama keluarga, tamu, dan rekan kerja.